fadilla kurniasari

Kepada seluruh saudara-saudari semut sebangsa dan setanah air yang saya hormati.
Melalui surat ini saya hendak menanggapi perihal pemberontakan dan kudeta besar-besaran yang telah dilakukan oleh umat semut kepada saya beberapa hari terakhir ini.
Baru-baru ini, telah terjadi hal yang sangat mengejutkan saya yakni munculnya banyak semut di kediaman saya tercinta. Munculnya semut ini terdiri dari berbagai sekte baik itu semut merah, semut gula, semut hitam, semut kecil yang unyu, hingga semut ngangrang yang garong. Saya sangat tidak mengerti apa yang menyebabkan fenomena alam yang tidak biasa ini bisa terjadi? Apakah karena Baim Wong putus dengan Yasmine Wildblood? atau karena Angelina Sondakh dituduh berbohong di sidang?, entahlah saya tak tahu. Mungkin karena BBM naik. #eh!
Apa yang menyebabkan sejumlah umat semut tersebut hijrah dan bermigrasi ke kediaman saya? mungkinkah ini salah satu program dari pemerintahan semut dalam rangka pemerataan penduduk? Bisa jadi iya. Ini satu-satunya alasan yang logis saya kira.
Saya selaku tuan rumah, sebenarnya  dengan tangan terbuka ikhlas menyambut kedatangan kalian para semut sebagai warga baru disini. Hanya saja, saya sangat kurang berkenan terhadap apa yang telah kalian perbuat pada saya beberapa hari terakhir ini. Saya tidak mengerti apakah kalian umat semut sedang dilanda krisis moneter sampai kekurangan bahan pangan? Ataukah kalian saat ini sedang bertransformasi menjadi hewan karnivora? Mengapa kalian begitu tega menggigit saya saat saya sedang tidur? Saat saya sudah bangunpun mengapa kalian masih menggigiti saya?
Mengapaaaa?????!!!! Apa salah sayaaaaa????!!!! JAWAAAABBBB!!!! Apa sih susahnya ngomong???? Kalian nggak punya pulsa yaaa????!!!!! #eh!
Saya tahu, karena keterbatasan saya sebagai seorang manusia sehingga seringkali menginjak kalian sampai tewas. Tapi saya berani bersumpah, demi seluruh kotoran gajah di Afrika, saya benar-benar tidak sengaja pada saat melakukannya. Ya, ti-dak-se-nga-ja, tidak sengaja, sungguh.
Namun itu semua tidak terlepas juga dari kesalahan kalian. Mengapa kalian tidak menghindari kaki saya pada saat itu. Kalian juga kenapa harus berukuran semini itu. Coba kalau kalian segede gajah Afrika pasti saya bisa liat dan tidak mungkin sampai menginjak kalian. Jadi saya mohon jangan atasnamakan tragedi penginjakan semut sebagai alasan kalian balas dendam pada saya. Itu murni kecelakaan semata.
Karena kudeta yang telah kalian lakukan, sekarang kaki dan tangan saya merah-merah serta gatal. Puaskah kalian dengan semua itu?
Tidak bisakah kita berdamai saja bung? Seperti judul lagu band GIGI. Perdamaian.
Damai itu indah sob, lebih baik kita bermaaf-maafan. Peace, Love and Gaul bro! -__-v
Saya berharap semoga kalian membaca surat saya ini. Karena proses pembuatannya sangatlah melelahkan. Saya harus mengetiknya sembari berjuang melawan rasa gatal akibat gigitan kalian. Hei, apa kalian nggak pernah gosok gigi toh?
Baiklah, sepertinya cukup sekian surat ini. Salam cinta, salam ceria J
*garuk-garuk
fadilla kurniasari

Oke, ini emang maksa banget judul postingannya -_____- abaikan ya..
14 Februari… siapa sih yang nggak tahu ama ni tanggal keramat?
Iya, ada sih… Mbah Siti, tetangga depan rumah saya yang umurnya udah 90 tahunan. #lho!
Bukan, bukan… ngaco… maksudnya, semua umat berasmara sejagad raya pasti tahu banget sama tanggal ajaib ini. Terutama bagi para muda-mudi. Karena menurut fatwa MUI, sangatlah tidak gaul dan haram hukumnya apabila ada yang masih bertanya, “Emang ada apaan sih tanggal 14 Februari?”. Apabila pembaca sekalian menemui spesies tidak gaul seperti itu, maka  jawab aja 14 Februari itu hari kebangkitan nasional. #gubrak!
Kembali ke benang biru, (iyaa… saya tau yang bener itu ‘benang merah’ tapi yang warna merah lagi abis jadi pake warna biru nggak papa dong, suka-suka, MASALAH BUAT LO???) #nyolot
Di tanggal sakral ini, mata saya jadi agak sakit karena warna pink nan unyu bertebaran dimana-mana. Khususnya di tempat-tempat umum yang bertitelkan ‘toko’. Misal; toko baju, toko assesoris, toko buku, dan masih banyak toko-toko lainnya. Tapi toko material nggak masuk hitungan ya.. Soalnya selama saya hidup ampe detik ini juga, saya belum pernah menjumpai ada besi dan paku jadi diiket pita pink dan bergambar love nan unyu menjelang valentine tiba.
Nggak cuman toko aja, supermarket dan mall ikutan juga dalam euforia hari raya unyu sedunia ini. Malah kadang ada diskon-diskon segala dalam rangka menyambut valentine. Tapi tentunya dengan harga yang udah dinaikin dulu sebelumnya. Tau sendirilah gimana jeniusnya orang Indonesia.
Di hari valentine, para produsen cokelat jadi panen untung. Menjelang hari valentine, dagangan mereka jadi laris manis. Bahkan nggak cuma cokelat brand ternama aja yang berbahagia. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh home production cokelat yang kreatif-kreatif banget dalam hal desain-mendesain dunia percokelatan. Mereka unjuk gigi sama para pabrik cokelat di momen hari valentine. Bagitu pula sama halnya dengan produsen bunga baik itu bunga taneman beneran maupun bunga-bungaan alias bunga plastik. Menurut Bunga Citra Lestari selaku duta bunga Indonesia, omzet penjualan bunga meningkat saat momen valentine tiba.
Sejarah adanya ritual Valentine yang identik sama 3 hal unyu (pink, bunga, coklat) tersebut saya kurang tau bagaimana persisnya. Lha wong sejarah proklamasi aja saya lupa, apalagi sejarah valentine. Ngomong-ngomong pak Soekarno dulu ngerayain valentine nggak ya? Pasti nggak deh. Jaman dulu kan Indonesia masih miskin. Bisa makan telo aja udah syukur alhamdulillah, gimana mau beli cokelat? Lagian pak Soekarno istrinya banyak, jadi harus beli cokelat dan bunganya yang banyak. Menurut prinsip ekonomi itu sangat tidak praktis dan tidak baik bagi kesehatan dompet. Tapi ya sudahlah.. biarlah hanya pak Soekarno dan Tuhan saja yang tahu.
Oke.. sebagai penyandang jomblo stadium lanjut sekaligus anggota HJI (Himpunan Jomblo Indonesia) saya juga ingin menyuarakan keluh kesah rekan-rekan seperjuangan saya.
Wahai seluruh umat berasmara, tahukah kalian bahwa 14 Februari itu adalah hari ternista dan terkampret bagi saudara-saudara kalian yang mengidap penyakit jombloisme? Tolonggglah..TOLONGGG!!! (ini ngetiknya sambil nangis) saya mohon dengan teramat sangat atas nama biawak bencong… bukalah mata hati kalian. Tolonglah sedikit lebih pekain perasaan kalian. Toleransi dalam hal berasmara sangatlah dibutuhkan pada saat-saat genting seperti momen valentine. Kalian tidak mengetahui bahwa selama momen valentine, kami teramat menderita!. Sudah cukup si pink unyu berkeliaran dimana-mana dan membuat mata kami katarak!. Sudah cukup kami ngiler dan memandang nanar pada tumpukan cokelat di supermarket!. Sudah cukup kami demo pada pak SBY agar membuat RUU anti unyuigrafi Indonesia yang melarang peredaran segala hal yang mengandung unsur unyu saat valentine tiba!. Sudah cukup! Sudahhhh cukuuuuuuuuuuuuuupppp!!!!!! #keseleksabun
Ffyyyuuuhhhh…
Ngetik postingan ini emang bener-bener butuh perjuangan lahir dan batin.
So, intinya please banget bagi kalian yang merayakan hari raya valentine supaya lebih peduli pada lingkungan sekitar. Misalnya adalah jangan pamer kalo habis dikasih cokelat sama pacar. Itu sangat menurunkan harkat dan martabat seluruh umat jomblo sedunia. Camkan itu!!!! *pasang tampang garong *bawa golok
Terus, buat teman-teman seperjuangan.. sabarlah.. kawan.. karena orang sabar hidungnya lebar #eh!
Yahhh…intinya selamat merayakan valentine bagi yang merayakan dan bagi yang tidak merayakan, tenang aja. You are not alone.. *nunjuk diri sendiri
Okidoki…sekian postingan kali ini
Salam cinta, salam ceria :)

fadilla kurniasari
Saya tercengang dan sedikit mupeng waktu melihat berita di televisi yang menayangkan adegan para supporter turun ke lapangan untuk menghajar beberapa pemain sepak bola yang sedang bermain.
Kejadian yang cukup membuat saya geleng-geleng kepala ini memakan korban hingga sekitar 74 orang tewas.
Pertandingan yang digelar di Port Said, Cairo, Mesir ini bener-bener ricuh penontonnya. Cuma gara-gara sebel tim sepak bolanya kalah mereka jadi tawuran hebat begitu.
Belum lagi mereka yang nggak ikut tawuran malah menyalakan kembang api secara liar dan membakar stadion. Saya tambah mlongo ngeliatnya. Buset, ampe segitunya? -_______-

Belum ada 10 menitan kemudian saya mindah channel TV ke sebuah acara favorit saya "On The Spot".
Yang dibahas ternyata 7 tragedi kelam sepakbola di dunia. Daaannnn tentu saja peristiwa yang saya tonton di acara berita tadi masuk dalam nominasi.

Saya lantas teringat pada dunia sepakbola di Indonesia. Ricuh supporter di ajang liga Indonesia juga sudah jadi hal yang biasa. Apakah ricuh-ricuh begitu sudah seperti agenda rutin saja di dunia sepak bola?

Saya jadi mikir bagaimana dengan cabang olahraga lain? Rasa-rasanya animo masyarakat nggak ada yang sehebat seperti sepakbola. Bulutangkis misalnya? saya kira kita cukup bisa angkat topi untuk prestasi Indonesia di cabang bulutangkis. Tapi supporternya kayaknya nggak pernah seekstrem seperti di sepakbola. Bukannya biasanya euforia supporter itu akan semakin heboh bila cabang olahraga tersebut jadi andalan kita? Padahal, (maaf tanpa mengurangi rasa hormat) cabang sepakbola di Indonesia belum begitu baik dalam menorehkan prestasi saat ini.

Belum lagi waktu dulu ada kisruh kepengurusan PSSI sepertinya perhatian masyarakat cukup banyak tersedot. Padahal saya dengar sendiri di sebuah acara talkshow di stasiun TV Taufik Hidayat berkata bahwa pada cabang bulutangkis juga pernah mengalami kasus serupa. Tapi mana? gaungnya tidak bergema sekeras kasus PSSI.

Saya merenung apa yang membuat cabang olahraga sepakbola menjadi begitu spesial di mata masyarakat? Bahkan fanatisme sepakbola itu sudah begitu kuat dari mulai tingkat lokal. Saya suka heran kalau ketemu sama supporter PSIS Semarang di jalan. Kadang banyak diantaranya adalah justru anak SMP. Belum lagi mereka suka melanggar peraturan lalu lintas seperti nggak pake helm dan kebut-kebutan misalnya.

Saat perhelatan SEA GAMES digelar di Indonesia, perhatian terbesar masyarakat juga tertuju pada cabang sepakbola. Begitu juga para pemainnya langsung merajai media baik berita formal hingga infotainment. Berbagai talkshow berlomba-lomba menghadirkan pemain Timnas U-23 sebagai bintang tamu mereka. Bahkan ada sebuah stasiun TV swasta sampai membuatkan film televisi (FTV) dengan tema sepakbola. -______-

Apa yang spesial dari sepakbola? Apa yang membedakan sepakbola dengan cabang olahraga lain?

Permainan ini dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari sebelas orang pemain dan dipimpin oleh seorang wasit dibantu dengan hakim garis. Memang banyak peraturan yang mengikat permainan yang berlangsung selama 90 menit ini. Begitu pula berbagai intrik yang dihadirkan oleh para pemain yang kadang menarik juga untuk ditonton. Banyak aspek yang memengaruhi permainan sepakbola. Dari mulai pelatih dengan strateginya, chemistry antar pemain, keadilan dari sang wasit, hingga kejelian mata hakim garis. Sepakbola memang permainan yang kompleks. Mungkin ini yang menjadikannya begitu menarik untuk ditonton.

Yang jelas tetap saja menurut saya sepakbola itu ajaib.
Seakan harga diri sebuah bangsa dipertaruhkan ketika mengikuti pertandingan sepakbola akbar di kancah internasional. Kok bisa gitu ya? ajaib.

Bagaimanapun sebagai warga negara yang baik, saya selalu mendukung perjuangan atlet-atlet Indonesia cabang olahraga apapun. Dan saya selalu berharap supporter sepakbola bisa meniru supporter cabang olahraga lain. Apa arti bendera fairplay yang selalu dibawa-bawa sebelum pertandingan sepekbola dimulai? Itu jangan cuma diliat doang untuk ceremony belaka, tapi benar-benar dihayati. Kalah menang itu biasa dalam permainan. Juga kepada bapak-bapak wasit hendaknya bisa mengambil keputusan tanpa memihak sebelah. Ketidakadilan anda dalam memimpin jalannya pertandingan juga ikut andil dalam terciptanya kerusuhan supporter.

Yaah..ini cuma sedikit dari isi kepala saya yang mungkin jauh bila dibanding dengan obrolan para pakar dan pengamat olahraga baik secara verba penyampaian hingga aspek bobot. Yang jelas saya cuma heran aja. Sepakbola itu ajaib banget. Kalo kata Syahrini "sesuatu" banget.

sekian postingan kali ini.
salam cinta, salam ceria, salam olahraga :)
fadilla kurniasari
Semua teman-teman kampus saya heboh. Berita sudah terciptanya IP alias nilai Indeks Prestasi terdengar simpang siur. Sebagian berkata bahwa nilai tersebut sudah hasil akhir yang paten, tapi yang lain berkata nilai tersebut masih dimungkinkan adanya revisi kembali. ah.. ini yang namanya galau kuadrat. Sudah galau bingung berapa angka yang tertera pada IP masih ditambah galau dengan berita ketidakpastian tersebut.
Maklum, sebagai mahasiswa semester satu yang masih hijau dengan tata cara dan sistem perkuliahan kami dilanda kebingungan luar biasa. Beberapa teman saya bahkan rela bolak-balik kampus dan ngecek apakah angka di layar komputer kampus itu mengalami perubahan atau tidak. Yang IP nya sedikit berharap angkanya bisa berubah menjadi lebih banyak sedangkan yang sudah puas dengan IPnya berdoa mati-matian bahwa itulah hasil finalnya, tidak boleh kurang tapi boleh kalau nambah. hahaha...

Saya sendiri malah galau bukan karena masalah IP. Saya cuma berharap IP yang yaahh.. yang wajar-wajar sajalah tapi semoga nggak ada matakuliah yang mengulang.
Tanggal sakral 8 Februari semoga memang benar-benar sudah bisa mengetahui dengan pasti angka ajaib tersebut.
Teringat perkataan ayah saya: "jadi orang harus gentle, berani menerima kenyataan dan konsekuensi. Orang yang mau maju seperti itu."
Kalau saya pikir-pikir memang benar. Yang seharusnya dilakukan bukan galau nggak jelas seperti ini. Sabar sajalah menanti hasilnya. Ketika hasil itu sudah keluar maka itulah hasil keringat selama satu semester ini. Berapapun angka yang tertera disitu itulah saya yang membuatnya sendiri. Bila hasilnya bagus, jangan lantas sombong dan angkat dagu hingga lupa diri. Dan jika hasilnya kurang memuaskan jangan terpuruk lantas sedih. Buat evaluasi, ciptakan revolusi dan jadikan resolusi.

Dear Allah..
Aku percaya dan pasrah apapun yang terjadi esok 8 Februari adalah yang terbaik dariMu.
Semoga aku bisa bersikap seperti bagaimana seharusnya aku bersikap.

Salam cinta, salam ceria :)
fadilla kurniasari
Keinget jaman SMA dulu paling hobi nongkrong di sini ---> Gramedia Amaris, sebuah toko buku yang belum lama dibangun dan berlokasi di jalan Pemuda, depan sekolah saya persis.

Pas kelas tiga, saya rajin banget nyambangi tempat itu. Terutama kalo sambil nunggu waktu les.
Yang membedakan Gramedia Amaris sama Gramedia Pandanaran adalah "satpam"nya...
hahaha...begini ceritanya..

Sebagai seseorang yang nggak modal, saya emang rajin ke Gramedia. Bukan rajin beli buku, tapi rajin 'nyolong baca buku'. Dengan tidak sopan saya buka segel buku apa saja yang lagi pengen saya baca lalu ya udah baca ajaa... Nah, makanya saya suka ke Gramedia Amaris karena selain dekat dengan SMA saya dulu, satpamnya juga nggak beredar terus kayak di Gramedia Pandanaran. Di Gramedia Amaris satpamnya dikit dan seringnya jaga di lantai satu doang. Bagian buku kan ada di lantai dua, hahaha...

Gramedia yang notabene toko buku malah saya jadikan perpustakaan. Saya bisa betah berjam-jam disana sambil baca buku dengan tenang dan santainya.
Sebenernya banyak mata-mata memandang aneh saat saya duduk di lantai (kalau bahasa jawanya: "ndlosor") seenak jidat sambil baca buku. Tapi cuek ajaaaa. Kalo kata Soimah , "MASALAH BUAT LO?"
hahaha..emang dasar muka tembok jadi nyantaaiiii ajaaa

Palingan juga pernah sih, ada mbak-mbak pegawai Gramedia dateng trus ngingetin saya. Tapi saya cuma berdiri, pasang tampang inocent, manggut-manggut sambil bilang "iya, mbak, maaf" terus duduk lagi dan lanjut baca pas si mbak udah pergi. hahaha...
pokoknyaaaaa enak banget dah disitu, modalnya cuma pede aja, nggak usah hiraukan pandangan sinis pengunjung lain.(dil, malah ngajarin jelek! -________-) 

Eh, pernah juga ada anak SMP tadinya malu-malu kucing bolak-balik liat sampul buku sambil ngeliatin saya yang lagi baca buku dengan santainya. Eh, terus dia terinspirasi dari saya kali ya jadinya ngikut main sobek aja tu plastik segel buku dengan sadisnya dan menyembunyikan tu plastik di saku celananya terus capcuss duduk di sebelah saya baca buku deh. hahahaha.... good job dek :D

Oh, ya satpamnya juga pernah sih keliling ke lantai dua-di bagian buku, pas saya lagi mau buka segel.
hahaha.. waktu itu nggak siap banget dan saya kaget banget. Sambil rada grogi buru-buru saya benerin sampul yang udah tewas setengah itu dan pura-pura megang tu buku. Jadi ceritanya biar kelihatannya saya mau beli tu buku. hahaha...
Emang dasar geblek!

Terus kenangan paling lucu waktu saya ke Gramedia sama Finda. Eh, disana malah main catur sama masnya pegawai Gramedia. Awalnya saya dan Finda cuma iseng aja liat-liat papan catur yang dipajang di Gramedia. Dari 'ngeliat' berlanjut 'megang' dan malah akhirnya kita buat main berdua. Tau-tau ada mas-mas pegawai Gramedia datengin kami, rada malu waktu itu soalnya kami nggak beli. Eh, malah itu mas ngajak main bareng -____-
Berhubung saya main catur masih amatir banget-banget jadinya pertandingan catur itu dilakoni oleh Finda versus mas Gramedia yang tentu saja dimenangkan oleh mas Gramedia.

Di Gramedia nggak cuma jual buku, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik doang, di bagian bawah ada kaset VCD baik musik maupun film. Nah, disitu kan ada TV nya, biasanya buat nyobain muter VCD kalo ada pembeli yang minta ngecek apakah VCD itu macet-macet atau nggak. Berhubung Gramedia Amaris itu masih baru, jadinya belum seramai Gramedia Pandanaran. Nah, mbak-mbak yang jaga stan VCD jadinya nganggur, mereka pada muter film trus nonton. Saya ikutan nimbrung disitu dan nonton film. hahaha... lumayan nonton film gratis kan..

Pokoknya asik banget deh disitu..
Saya kangen banget udah lama nggak kesana.. habisnya lumayan jauh dari rumah.
Kalo denger lagu Titanic (My Heart Will Go On- Celline Dion) saya langsung inget sama Gramedia Amaris, soalnya dulu disana rajin banget muter instrumental lagu itu. Bikin betah dan nggak pengen pulang. hahaha..
Tapi, coba bayangkan kalo semua pengunjung Gramedia berkelakuan busuk seperti saya.. bisa-bisa gulung tikar deh hahaha... Si Gramedia seneng kali ya udah nggak saya apelin lagi.

Kepada: Gramedia Amaris, aku merindukanmu :)
Sekian postingan kali ini
Salam cinta, salam ceria :)
fadilla kurniasari

Mentari yang masih berdiri sepenggalah menyapa lembut ruas jalan Supriyadi yang lalu lintasnya kini mulai padat. Sekarang adalah menjelang pukul tujuh pagi. Jam-jam sakral bagi para pelajar malas yang bangun kesiangan dan sedang berpacu dengan waktu untuk sesegera mungkin sampai sebelum hukuman menyambut di depan pintu gerbang sekolah. Para pekerja dengan jadwal pagi dari mulai buruh kecil yang mengayuh sepeda hingga pegawai kantoran bermobil sama-sama memacu tunggangannya. Supir angkot yang membunyikan klakson, bersaing sengit dengan teman seperjuangannya, heboh berebut penumpang ibu-ibu yang hendak belanja ke pasar terdekat. Hari itu ramai. Mungkin memang selalu ramai begitu setiap harinya. Terus berulang seperti detik jarum yang berotasi dari angka 12 hingga kembali lagi ke angka 12.
Di bahu jalan Supriyadi, seorang wanita paruh baya berjalan kaki menggandeng dua orang anak berseragam sekolah dasar. Tidak, seragamnya bukan berwarna putih pada kemeja dan bukan berwarna merah pada rok ataupun celananya. Tidak, badge almamater di bahu kanan kedua anak tersebut juga bukan bertuliskan nama sebuah SD swasta di kawasan Supriyadi. Pun tas yang dibawa kedua anak tersebut mungkin beratnya jauh lebih ringan dari segerombolan bocah SD lain yang melaju dengan sepeda menyalip mereka secara sembarangan. Mata kedua anak tersebut sipit, tapi mereka bukan keturunan tionghoa. Serta sorotan matanya tampak lucu kalau tak mau dibilang sedikit bodoh.
Si ibu berwajah tirus, kulitnya mencerminkan bahwa ia akrab dengan sinar matahari. Wajahnya kuyu, dengan ekspresi datar sekali. Ya, datar. Tidak tersenyum, tidak cemberut, tidak sedih, tidak bahagia, tidak tahu. Ibu itu benar-benar seperti hantu. Berbeda dengan kedua anak yang digandengnya itu. Mereka terus memamerkan gigi mereka yang tampak tidak rata itu. Menatap takjub setiap manusia yang melintas di samping mereka seolah mereka baru pertama kali keluar rumah.
Mereka bertiga selalu melintas di bahu jalan Supriyadi tiap pagi. Dengan ekspresi yang sama, baju seragam sekolah yang sama, tas sekolah yang sama, sandal jepit si ibu yang selalu jelek.  Begitu terus setiap harinya.
Si ibu dan kedua anaknya tadi berjalan semakin merapat ke pinggir kiri jalan Supriyadi. Mereka melangkahkan kaki memasuki sebuah tempat yang memiliki gerbang besar bertuliskan SEKOLAH DASAR LUAR BIASA DAN SEKOLAH MENENGAH LUAR BIASA
Setiap harinya ternyata mereka selalu berjalan kaki menuju tempat itu. Demi menghemat selembar kertas uang lima ribu, mereka rela menempuh perjalanan yang sama sekali tidak bisa dibilang dekat. Dengan peluh bercucuran si ibu juga akan pulang dengan berjalan kaki pula setelah mengantar kedua anaknya. Ironis sekali, suaminya ternyata sudah berpulang ke sisi Tuhan.
Bahu jalan Supriyadi, menjadi saksi bisu
Si ibu tanpa ekspresi,
Si ibu dengan dua orang anaknya yang tuna grahita,
Si ibu yang nyaris tidak pernah tersenyum,
Si ibu yang hidupnya terlihat begitu getir,
Bahu jalan Supriyadi, menjadi saksi bisu
Bagaimana guratan kelelahan si ibu tanpa ekspresi
Bagaimana tatapan nanar si ibu tanpa ekspresi
Bagaimana wajah polos tak mengerti dari kedua anak itu
Bagaimana  racauan para supir angkot yang ditolak si ibu tanpa ekspresi
Bagaimana pandangan aneh orang-orang di ruas jalan Supriyadi


Bersyukurlah… Tidakkah kita sangat jauh lebih beruntung darinya? Kita masih bisa melakukan hal sepele yang sangat sukar untuk dilakukannya. Tersenyum.

Salam cinta, salam ceria :)
NB:From true story, teman kerja ibu saya tapi beda bagian
fadilla kurniasari
“Walah nduk..nduk.. bar mangan keju kok mangan telo”   
(artinya: “wah nak..nak.. habis makan keju kok makan ketela”)

Masih terngiang di kepala saya setiap detil perkataan Pak Har, guru biologi saya sewaktu SMA dulu. Kejadian itu berotasi dengan jelas dalam jutaan sel otak saya.
Beliau berkata demikian seraya tertawa remeh saat saya mengatakan kemana saya hendak melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. 
“Haha.. istifar ya pak..” bagitu tambah teman saya sembari bergurau memelesetkan nama kampus saya (STIFAR)

Saya pernah duduk di bangku sekolah menengah yang yaahh.. oke, mungkin memang bukan SMA paling nomor wahid di kota Semarang, yangmana sudah disandang oleh SMA tetangga. Namun, SMA saya tidak bisa dipandang sebelah mata oleh masyarakat Semarang. Apalagi didukung dengan letak geografisnya yang strategis, di tengah kota, di kawasan perkantoran dan pemerintahan serta dekat dengan mall.
Semua orang Semarang tahu, SMA 5 Semarang itu yang dekat SMA 3 Semarang (kami sering disebut SMA kompleks), yang ada di jalan Pemuda, yang depannya Gramedia Amaris, yang depannya ada shelter  BRT, yang dekat balaikota, yang begini..yang begitu.. dsb.

Pembaca blog yang budiman, ini bukan postingan tentang membanggakan sekolah, menyombongkan almamater, atau sejenisnya, bukan. Saya hanya memaparkan fakta yang ada, agar anda bisa memahami maksud perkataan dari Pak Har di atas dan bisa memahami perasaan saya saat pak Har berkata demikian pada saya.

Saat ini, saya sedang menempuh studi di sebuah perguruan tinggi swasta yang nyaris banyak orang Semarang tidak mengetahuinya. Dengan usia baru sekitar 10 tahun berdiri, area kampus yang lahannya minim serta masih berakreditasikan B.Orang-orang selalu mengernyitkan dahi bila saya menyebutkan nama kampus saya. Kampus saya tidak berada di kawasan tengah kota seperti SMA saya dulu. Kampus saya jauh dari mall. Letaknya di pinggir kota dekat perbatasan kota Semarang dan Demak. Makanya saya tidak menyalahkan bila orang-orang selalu bertanya dimana letak kampus saya. Jalanannya juga jelek dan sempit, jauh berbeda dengan SMA saya yang beralamat di Pemuda 143 dengan kontur jalan yang mulus tidak berlubang. Bagaimana  jalannya tidak bagus, SMA saya kan dekat dengan balaikota.

STIFAR, mendengar namanya saja sering mengundang tawa baik guru maupun teman-teman saya. Pak Har pun juga ambil bagian tentunya. Kampus antah berantah, nggak terkenal, nggak jelas, begitu mungkin pikir mereka.
Saya harus menelan ludah yang terasa begitu pahit dan memajang senyum kecut saat pak Har mengatakan kalimat di atas  tadi  pada saya di perpustakaan sekolah.
“Kenapa nggak di UGM aja to kuliah farmasinya? Wong SMA 5 tu ya orientasinya kalau bisa PTN favorit to nduk.” lanjut kata pak Har.
“Nggak boleh luar kota pak, sama orang tua.” jawab saya malas.
“Wong bar sekolah ning Pemuda kok sekolah ning Pucang Gading. Hahaha..” pak Har menertawai saya dengan santainya. Sementara saya harus mengehela napas panjang sambil masih memasang senyum kecut dengan perasaan miris.
Satu-satunya alasan yang menyebabkan saya hingga bisa kuliah di perguruan tinggi swasta tidak ternama tersebut adalah rekomendasi dari orangtua saya, khususnya ibu saya yang kebetulan orang medis.
Masih bisa saya ingat dengan jelas perasaan saya dulu, ketika saya masih meluncurkan berbagai aksi penolakan terhadap usul orangtua saya tersebut. Bagaimana tidak, saya sejak SMA paling bodoh dengan pelajaran kimia. Saya juga tidak terlalu menyukai pelajaran tersebut, masa saya disuruh kuliah di tempat yang justru ilmu kimia menjadi menu utamanya sehari-hari? Ini gila.

Saya juga dari dulu ingin sekali memakai jas almamater Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Saya selalu membayangkan alangkah bahagianya jika bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga besar Undip. Dulu map, brosur, hingga buku-buku panduan informasi tentang kampus Undip berjajar rapi di lemari saya. Sesekali tempo saya membuka-bukanya, membacanya, menatap lamat-lamat gambar kampus Undip sembari senyum-senyum sendiri, membayangkan bila saya berada disana. Undip memiliki ruang khusus dalam hati saya. Undip adalah mimpi saya. Mimpi yang paling ingin saya wujudkan menjadi kenyataan. Walaupun mungkin Undip bukan universitas kelas kakap selevel UGM, UI, ataupun ITB saya tetap ingin kuliah disana. Ini bukan mimpi yang terlalu muluk kan ? apalagi bila menengok teman-teman SMA saya ternyata nyaris separuhnya sekarang telah bertengger manis di universitas negeri terbaik di kota Semarang tersebut.

Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Dia berkata “tidak” dengan keras.

Orangtua saya sama sekali tidak berharap ataupun menganjurkan saya kuliah disana, di kampus impian saya. Menurut orangtua saya, kuliah di jurusan farmasi prospek kerjanya lebih bagus. Dan tentu saja itu tidak bisa mengantarkan saya ke civitas Undip karena Undip tidak memiliki jurusan farmasi. Ah, sial sekali.
Sebuah kampus swasta tidak ternama di kawasan pinggir kota Semarang malah memiliki program studi farmasi seperti yang diharapkan orangtua saya.

Sebenarnya saya bisa saja nekat bilang “tidak mau”. Tapi saya bukan tokoh seperti di film-film atau novel dengan konflik sejenis yang bisa melakukan hal itu dengan mudah.
Saya masih memiliki pemikiran, sukses tidaknya kita itu bergantung pada restu orangtua. Bila orangtua merestui kita, beliau akan senantiasa bahagia dan mendoakan kita yang terbaik. Saya ingin yang seperti itu.  Bagaimanapun, saya juga tidak mau langkah saya tersendat di tengah jalan besoknya karena tidak adanya restu orangtua.

Dalam membuat keputusan ketika itu sangatlah tidak mudah. Hati saya bergolak hebat. Saya tidak rela, sejujurnya sangat tidak rela melepaskan keinginan saya. Bahkan saya menangis saat harus berhenti mengikuti program bimbingan belajar  persiapan SNMPTN yang sudah setengah jalan saya lakoni. Oleh karena itu saat mendaftar di kampus swasta tersebut, saya sangat ogah-ogahan, pasang tampang cemberut maksimal hingga pak satpam tak bersalahpun jadi korban kejengkelan saya. Saya selalu berdoa semoga kampus swasta ini tidak menerima saya. Tapi ternyata Tuhan tidak selalu menjawab “ya” pada setiap doa kita.
Dulu, ada sebuah perkataan yang terlontar secara tidak sengaja dari guru SMA saya, bu Mindar  yang cukup membuat saya termenung untuk beberapa saat, bunyinya seperti ini:

“Terkadang sesuatu yang dipaksakan belum tentu berakibat buruk. Kalau tujuannya baik, maka tidak ada salahnya dilakukan selama kita mampu.”
Dan perkataan guru saya mengantarkan saya ke kampus saya saat ini, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) sekitar satu semester lalu :’)

Baru beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman SMA saya menjenguk ayah teman saya yang dirawat di rumah sakit. Teman-teman saya yang mayoritas kuliah di Undip, berceloteh ria panjang lebar mengenai fakultas dan kegiatan kuliah mereka masing-masing.
Saya diam, tidak ikut ambil suara dan memutuskan jadi pendengar yang baik saja. Entahlah, saya merasa berkecil hati sepertinya teman-teman saya tidak minat mendengar cerita saya bersama kampus kecil saya.

Semakin lama mendengar segala sesuatu tentang Undip, ada perasaan tidak enak yang mengusik saya. Rasanya menohok ulu hati dan membuka luka lama. Tapi saya berusaha tetap terlihat senormal mungkin.
Pulang dari rumah sakit, teman-teman saya mengajak makan di luar. Saya tercengang ketika mengetahui bahwa kami ternyata hendak makan di daerah Tembalang, di kawasan Undip!
Saya berdialog dengan diri sendiri dalam hati, ayolah dil! Apa-apaan kamu ini. Ini sudah 6 bulan. Biasa aja dong reaksinya!

Sesampainya di kawasan Tembalang, ternyata saya masih belum bisa membohongi diri sendiri, hati saya terasa sesak. Saya ternganga, takjub karena walaupun saya orang Semarang saya sangat jarang ke daerah sini.  Melihat bangunan  fakultas-fakultas Undip yang berdiri angkuh menjulang tinggi, kawasannya sangat ramai, banyak mahasiswa Undip berlalu lalang, banyak juga tempat-tempat makan yang kelihatannya sangat nyaman untuk disinggahi, masjidnyapun besar dan indah, kawasannya sangat sejuk dan menentramkan hati. Berbeda 180 derajat dengan kampus kecil saya. Ya Allah…ini benar-benar menyayat ulang luka lama yang baru sembuh.

Saya diuji, kesabaran dan keikhlasan saya diuji.

Namun, perkataan dari teman-teman kuliah saya kemudian membuka mata saya lebar-lebar.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian tersebut, di suatu sore. Saya, Dias, Chil, Finda dan Iyah saling bertukar cerita mengenai masalah ke’tidakberartinya’ kampus kecil kami di mata banyak orang. Teman-teman saya ternyata juga merasakan dan mengalami apa yang saya alami. Tapi, kemudian teman saya berkata,

“Apa sih yang jadi tujuan kita kuliah? Ujung-ujungnya nyari kerja juga kan? Nggak mungkin kita kuliah terus-terusan. Mau dimana aja kita kuliah kalau ujung-ujungnya nganggur buat apa?”

“Iya, kita tuh susahnya sekarang aja dulu, tapi ntar kita yang tertawa terakhir soalnya kita insya Allah lebih cepet dapet pekerjaan daripada mereka-mereka.”

“Buat apa almamater keren, kuliah di Undip tapi jurusannya ecek-ecek nggak jamin masa depan.”
Saat itu juga saya serasa ditampar, Tuhan seolah-olah  sedang berkata pada saya “dil, ini yang Ku maksud! This is what I mean! Can’t  you just understand it?”

Mungkin kalau saya tidak kuliah di kampus yang menurut saya tidak terkenal itu, saya tidak akan pernah bertemu dengan teman-teman hebat seperti mereka.
Mungkin kalau saya tidak kuliah di kampus yang menurut saya kecil itu, saya tidak akan pernah memahami hakekat dan maksud baik orangtua saya.

Ya, kampus kecil dan tidak terkenal itu yang justru memberi banyak hal positif tapi tidak saya sadari.
Kampus kecil dan tidak terkenal itu, memiliki link dengan berbagai perusahan obat dan jamu di Indonesia, bersahabat dengan berbagai rumah sakit. Mereka siap menerima kami nanti ketika sudah lulus. Tidakkah itu pilihan yang sangat tepat untuk menempuh studi di kampus ini? Kampus yang lebih menjanjikan masa depan.

Maafkan aku kampusku, aku terlalu sombong ketika itu. Aku sok mengeksklusifkan diri hingga memandangmu  dengan picik. Aku tidak bangga terhadapmu, padahal sudah enam bulan aku bersama denganmu. Aku mengabaikanmu, merendahkanmu, padahal aku ini siapa dan apa? Memangnya pantas aku begitu?

Maafkan aku kampusku, aku belum dewasa dalam menilaimu. Aku membandingkanmu yang masih sangat belia dengan kampus yang sudah berdiri tegak jauh lebih lama darimu. Pemikiran yang tidak tepat dan kurang bijaksana.

Maafkan aku kampusku, aku terlalu kekanak-kanakan. Aku hanya menilai kampus dari gengsi alamamater semata. Kau bukanlah barang atau mainan untuk dipamerkan pada anak tetangga. Kau kebutuhanku, yang Tuhan berikan meski aku tidak menginginkanmu. Kau adalah jodohku. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu kau milikku.

Saya sudah melangkah sejauh ini, niat awal ketika hendak memulai perjalanan panjang ini adalah membahagiakan orangtua. Sudah semestinya saya wajib melakukan yang terbaik. Seharusnya pula saya mencintai dan melakukan dengan sepenuh hati apa yang sudah menjadi bagian hidup saya selama enam bulan terakhir ini.

Orangtua selalu tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Dulu kalimat ini terasa begitu egois menurut saya. Sekarang saya mengakui, kalimat itu tidak salah.

Tidaklah penting dimana kamu kuliah, yang terpenting adalah bagaimana kamu ketika menjalani kuliah itu 
sendiri serta menjadi seperti apa dirimu setelah itu. Sukseskah? 
Kampusku, terimakasih  telah sudi melebarkan tanganmu merengkuhku  menjadi salah satu anggota keluargamu.

Setiap orang adalah arsitek bagi kesuksesan diri mereka sendiri. Kita buktikan bersama-sama bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang menyebut diri mereka “keju” tapi juga kita si “telo”.
Terakhir, buat pak Har.. pernah dengar yang namanya burger telo? Ada lho pak, di TV.. rasanya enak dan banyak yang suka,  jadi jangan remehkan telo :)

salam cinta, salam ceria :)